oleh

Santri Ngaji Kesehatan Reproduksi

SLEMAN (NUJogja.com) – Minggu, 22 September 2019 santri putri Pondok Pesantren Ash Sholihah, Mlati Sleman mendapat kesempatan untuk mengaji hal yang baru. Mereka antusias mengikuti acara yang diselenggarakan PW Fatayat NU DIY bekerjasama dengan PW IPPNU DIY, PC Fatayat NU Sleman dan Mitra Wacana. Lain dari hari biasanya, pada hari itu mereka diberi pengetahuan tentang seputar kesehatan reproduksi perempuan dan pencegahan stunting.

Khotimatul Husna, ketua PW Fatayat NU DIY, dalam sambutannya berharap dengan sosialisasi lebih awal ini akan memberi kesadaran atas peran para santri putri terhadap upaya pencegahan stunting. Selanjutnya para santri putri juga diharapkan dapat memulai pencegahan dari dirinya sendiri dan orang-orang terdekat di lingkungannya, dengan cara mencegah anemia, menjaga kebersihan tubuh terutama bagian alat reproduksi, meningkatkan pengetahuan soal pendidikan mengenai gizi seimbang, kesehatan, sikap dan perilaku.

Dalam kesempatan tersebut Daryati Ahmad, pegiat kesehatan Puskemas Sedayu 1 menerangkan tentang bahaya dan upaya pencegahan stunting pada santri-santri putri. Stunting adalah Tinggi Badan (TB) terhadap Umur (U) lebih pendek dari yang seharusnya (umur sama, tinggi beda). Stunting pada anak menggambarkan keadaan “gagal pertumbuhan” (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu lama dan atau berulang pada anak yang terjadi sejak periode 1.000 hari pertama kehidupan (1.000 HPK), yaitu sejak bayi dalam kandungan (9 bulan=270 hari) sampai anak usia 2 tahun 0-2 tahun atau sama dengan 730 hari.

Stunting mengindikasikan masalah yang serius, dan merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Stunting juga dapat menyebabkan kerusakan struktur dan gangguan fungsi otak yang mengganggu tumbuh kembang jangka panjang, termasuk gangguan kemampuan fungsi kognitif atau kecerdasan anak (kemampuan belajar, berpikir, membaca dan berhitung) yang mengakibatkan prestasi sekolah lebih rendah dan sifatnya permanen (menetap). Sebab itu stunting menjadi issue hangat yang harus dicegah saat ini.

Baca Juga   Akselerasi Ekonomi Digital, GO-JEK Latih 150 UMKM Binaan Muslimat NU di Yogyakarta

Vitrin Haryanti, pada akhir sesi menerangkan sosialisasi tentang kesehatan reproduksi perempuan. Karenanya Fatayat NU menggaet remaja, dengan memfokuskan sasarannya pada remaja putri yang mukim di Pondok Pesantren. Karena dari sanalah akan terlahir generasi penerus bangsa yang menguasai kemampuan agama dan mempunyai moral yang baik. Pendek kata, PW Fatayat NU DIY ingin menyiapakan calon-calon ibu bagi generasi bangsa yang tangguh dan bersaing dengan dunia global. Ini juga bagian dari pengejawantahan semangat dari maqolah “surga di bawah telapak kaki ibu”.  (Nurhaeni).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed