oleh

Mahasiswa UNU Bangun Kolam Berteknologi IOT

DALAM rangka meningkatkan produktivitas budidaya ikan, Pesantren Lintang Songo Bantul membangun kolam berteknologi IOT (internet of think). Kolam tersebut dibangun oleh para santri bersama mahasiswa dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta.

Menurut Fauzi, Penanggungjawab pembangunan kolam, dengan teknologi yang mereka buat, kapasitas kolam dapat meningkat 10 kali lipat. “Berdasarkan penelitian dan pengujian alat yang kami buat, kolam ini akan mampu menampung 20-30 kg ikan dalam volume kolam satu meter kubik. Sementara kolam biasa hanya mampu menampung 2-3 kg ikan permeter kubik,” ungkap Fauzi.

Fauzi menjelaskan, teknologi yang dibuat bersama rekan-rekannya itu baru penelitian awal. Sehingga belum diperoleh sampel yang pasti terkait produktivitasnya. Angka tersebut diperkirakan berdasarkan kajian dan uji alat yang mereka buat. 

Ditanya mengenai biaya pembangunan kolam, Moh. Taqiyuddin Saleh (koordinator tim pengabdian mahasiswa UNU Yogyakarta) menyampaikan, pembiayaan seluruhnya dari pengasuh Pondok Pesantren Lintang Songo. Sedang mahasiswa memegang peran membangun kolam berdasarkan teknologi hasil penelitian mereka.

“Biaya pembangunan seluruhnya dari pesantren. Rekan-rekan mahasiswa yang didampingi dosen dari Pusat Wakaf Teknologi UNU Yogyakarta membantu pembangunan dan mewakafkan teknologi kepada jamaah,” ujar Taqi.

Menurut Taqi, pembangunan kolam itu berawal dari dhawuh Rektor UNU Yogyakarta untuk melakukan pengabdian di pesantren. Selanjutnya, dia bersama rekan-rekannya datang ke Pesantren Lintang Songo untuk membantu apa yang dibutuhkan oleh pesantren tersebut. Berdasarkan obrolannya bersama Pengasuh Pesantren Lintang Songo, diputuskan untuk membangun kolam ikan berkapasitas tinggi demi mendongkrak produktivitas budidaya ikan dan meningkatkan perekonomian pesantren.

Disinggung mengenai peluang untuk dikembangkan di pesantren lain, Taqi menjawab hal itu sangat mungkin untuk dilakukan. Karena teknologi yang mereka bangun memang untuk diwakafkan kepada jamaah NU.

Baca Juga   Akhiri MAPAMSA UNU, Sholawatan hingga Khataman

“Teknologi ini kami rancang agar mudah diduplikasi dan diperbanyak demi meningkatkan perekonomian jamaah NU melalui pesantren.” ungkap Taqi.

KH Heri Kuswanto, pengasuh Pesantren Lintang Songo, mengaku terbuka kepada siapapun yang ingin belajar maupun menuangkan kreativitasnya di lingkungan pesantren yang diasuhnya. Pihaknya juga mengaku siap bekerjasama dengan pihak manapun selama itu bertujuan untuk memberikan kebermanfaatan bagi agama, umat dan negara.

“Kami di sini terbuka. Siapapun boleh datang. Belajar atau mau menuangkan kreativitas dengan memanfaatkan lahan di sini, silahkan. Lahan kami luas. Silahkan saja kalau mau dimanfaatkan” Ujar Kyai Heri.

Kyai NU yang dikenal murah senyum itu menyampaikan, filosofi Lintang Songo adalah cita-cita memberikan penerangan seperti wali songo menerangi bumi nusantara. Pihaknya berkeinginan agar para santrinya memberikan manfaat bukan mengharapkan pemberian orang lain. Karena itulah pihaknya mendukung startup yang dibangun oleh para santrinya bersama mahasiswa UNU Yogyakarta melalui kolam ikan nila berkepadatan tinggi yang diharapkan mampu membangkitkan kekuatan ekonomi jamaah NU dari sektor perikanan serta mendukung kemandirian ekonomi pesantren-pesantren NU. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed