oleh

Fatayat Bahas Fiqh Penyandang Disabilitas

SLEMAN (NUJogja) – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2019, PW Fatayat NU DIY menggelar acara Bedah Buku “Fiqh Penguatan Penyandang Disabilitas” bekerjasama dengan Pusat Rehabilitasi YAKKUM, The Asia Foundation dan Pesantren Bumi Cendikia. Acara yang diselenggarakan pada Minggu, 03 November 2019 di Pesantren Bumi Gombang, Tirtoadi, Mlati, Sleman ini merupakan dialog lintas iman yang membahas hak keagamaan penyandang disabilitas.

Dalam sambutannya KH. Imam Aziz sebagai pengasuh Pesantren Bumi Cendekia yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan, Nahdlatul Ulama (NU) dan seluruh Badan Otonom di bawahnya, harus memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap akses penguatan penyandang disabilitas dalam segala aspek pelayanan umum.

Bahrul Fuad, atau yang biasa dipanggil Cak Fu sebagai penggagas dan salah satu tim penyusun buku “Fiqh Penguatan Penyandang Disabilitas” sekilas menceritakan pengalaman waktu kecilnya sebagai penyandang disabilitas. Ia mengatakan bahwa dirinya sering mendapat cemoohan dari masyarakat sekitarnya. Untuk mendapat kesempatan “berkedudukan sejajar” dalam masyarakat, para penyandang disabilitas seperti dirinya harus melakukan 3 hal yang luar biasa dibanding yang lain, yaitu: meyakinkan diri sendiri akan kemampuannya, meyakinkan keluarga, dan meyakinkan masyarakat.

Stigma sosial dalam masyarakat, dianggap sebagai makhluk yang tidak sempurna/ tidak normal, pandangan belas kasihan dan tidak adanya pembahasan secara khusus pada kitab-kitab fiqh klasik tentang hambatan yang berkaitan tentang pelaksanaan ibadah bagi penyandang disabilitas, menjadi alasan kenapa buku ini perlu ada. Ia menjelaskan, tidak dibahasnya tentang pelaksanaan ibadah bagi penyandang disabilitas dikarenakan adanya rukhsoh/keringanan yang dituliskan pada kitab-kitab fiqh tersebut yang ditujukan bagi pemilik hambatan/sakit. Sedang Cak Fu merasa ia sebagai penyandang disabilitas lebih “nyaman” jika dapat melakukan aktivitasnya termasuk melaksanakan ibadah sebagaimana layaknya umat yang lain meski dengan keterbatasannya.

Baca Juga   Upacara Sambut Maba, Rektor UNU -Panitia ‘Sarungan'

Dalam buku ini, dibahas secara rinci tentang permasalahan ibadah, sosial, pernikahan, hukum dan kebijakan bagi penyandang disabilitas. Rincian pembahasan tersebut meliputi, segala fasilitas yang harus ada di setiap tempat ibadah (toilet, tempat wudhu, dll) demi memenuhi kebutuhan pelaksanaan ibadah dan kesamaan hak untuk mendapat kesempatan beribadah.

Sependapat dengan Cak Fu, Pendeta Christiono mengatakan perlunya keterbukaan Gereja untuk membangun kebersamaan dalam belajar, dalam bekerja dan dalam merayakan kehidupan bersama. Baginya, buku ini merupakan anugerah, karena menunjukkan keseriusan NU dalam merespons kebutuhan penyandang disabilitas. Gereja terinspirasi untuk melakukan perubahan terkait pemahaman atas keterbatasan para disabilitas, imbuh Pendeta GKJ Kemandon, Gunungkidul ini.

Hal senada diungkapkan oleh Romo Robertus Hariyanta, seorang Pastor Peroki St. Petrus dan Paulus, Babadan. Menurutnya, dalam pandangan Gereja Katholik, manusia diciptakan sebagai gambar/citra Allah, maka seperti apapun wujud makhluk ciptaan-Nya, maka seperti itulah citra Allah. Para penyandang disabilitas adalah cara Allah menunjukkan kemuliaan-Nya.

Begitulah, buku ini telah memberikan manfaat bagi penyandang disabilitas. Karena setelah kehadiran buku ini, sekarang telah banyak dijumpai tempat-tempat ibadah menjadi lebih ramah bagi mereka. Antara lain, diperbolehkannnya kursi roda masuk ke dalam Masjid, sehingga penyandang disabilitas dapat dengan lebih leluasa memilih melaksanakan ibadah di tempat yang ia inginkan. Meskipun, tentu dengan beberapa syarat yang terkait hal itu.

[nurhaeniarief]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed