oleh

Akhiri MAPAMSA UNU, Sholawatan hingga Khataman

YOGYA (Nujogja) – Kegiatan nuansa khas pesantren menandai penutupan Masa Pengenalan Mahasantri (MAPAMSA) 2019 Univeritas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta di halaman kampus 1 di Jl. Lowanu 47 Umbulharjo Yogyakarta, Kamis (19/9) malam. Kegiatan berupa istighosah, sholawatan dan khataman Alquran.

Acara yang mengangkat semboyan “mengakar kuat, menjulang tinggi” itu diawali dengan alunan syahdu sholawat grup hadrah UNU Yogyakarta. Dilanjutkan istighosah dan khotmil Qur’an yang dipimpin oleh Gus Faik Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren UNU Yogyakarta.

Menurut Ketua Panitia MAPAMSA, Mustiko Cahyono Furqon, Khotmil Qur’an tersebut sebagai simbolisasi dari khataman 30 Juz yang diprogramkan setiap hari selama pelaksanaan MAPAMSA.

“Selama pelaksanaan MAPAMSA kami jadwalkan agar setiap hari peserta tadarus bersama dan dalam satu hari khatam 30 Juz. Nah, malam ini sebagai malam puncak, kami adakan khataman,” Jelas Mustiko.

Dalam kesempatan itu Mustiko membuka rahasia 30 juz bisa selesai dibaca selama satu hari bersamaan dengan rangkaian acara yang lain. Dijelaskan, peserta yang jumlahnya ratusan itu dibagi menjadi 20 kelompok. Setiap kelompok mendapat jatah menyelesaikan 1,5 Juz. Sehingga ketka digabung 30 Juz bisa selesai dibaca dalam waktu yang bersamaan.

Penutupan MAPAMSA menjadi meriah dengan penampilan-penampilan seni musik dan teatrikal. Lesbumi PWNU DIY memeriahkan acara dengan menampilkan musikalisasi puisi bernuansa santri. Juga disuguhkan pementasan teatrikal dari UKM Seni Blangkon Mesem, tari Wura Bongi Wonca dari sanggar seni RIMPU dan beberapa penampilan menarik lainnya dari mahasantri UNU Yogyakarta.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UNU Yogyakarta, Dr Senawi MP, menyatakan kegiatan yang dilakukan mahasiswanya sangat mendukung cita-cita kampusnya untuk menanamkan nilai-nilai kepesantrenan kepada mahasiswa baru UNU Yogyakarta.

Selain itu juga memberikan motivasi kepada para mahasiswanya untuk selalu optimis. Ditegaskan. meski UNU Yogyakarta masih seumur jagung, bukan berarti tidak punya kemampuan untuk ikut memberikan warna dalam pencapaian prestasi. Terbukti dengan keberhasilan mahasiswa UNU Yogyakarta dalam kejuaraan di kancah nasional maupun internasional.

Baca Juga   Gubernur DIY Sangat Dukung Liga Santri

“Meskipun UNU Yogya datang belakangan, bukan berarti kita terbelakang. Kita punya kapasitas dan cirri khas untuk ikut memberikan warna” tegas Senawi.

Badrut Tamam selaku Presiden Mahasiswa UNU Yogyakarta sekaligus penanggungjawab acara, mengaku lega dan bersyukur karena acara MAPAMSA tidak hanya berjalan dengan sukses, tapi juga mendapatkan apresiasi dari pihak rektorat.

“Konsep yang diangkat oleh kawan-kawan sangat berbeda dengan tahun lalu. Tahun ini sangat ditekankan pada nuansa pesantrennya, Sehingga kami sangat bersyukur dan terharu mendapatkan apresiasi dari pihak kampus“ ungap Badrut.

Badrut yang pada tahun lalu menjadi ketua panitia acara yang sama, menyampaikan bahwa rangkaian acara pada tahun lalu hanya berlangsung 3 hari tanpa malam inagurasi. Sedangkan acara MAPAMSA kali ini berlangsung selama 4 hari ditambah dengan malam inagurasi yang dikemas dalam istighosah dan khotmil Qur’an.

Badrut mengaku puas dengan kinerja rekan-rekannya dalam penyelenggaraan MAPAMSA 2019 ini yang mengangkat nuansa pesantren. Pihaknya berharap, penanaman nilai-nilai kepesantrenan tidak hanya sebatas seremonial saat masa pengenalan di awal kuliah.

“Semoga adik-adik mahasantri UNU Yogya menghayati MAPAMSA kali ini. Sehingga nilai-nilai kepesantrenan yang diajarkan tidak hanya formalitas, tapi menjadi bagian dari kehidupan mereka yang senantiasa mereka amalkan,” Pungkas Badrut. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed