by

Ngaji Gender di Kampus UNU, Laki-laki Perempuan Sama

YOGYA (NUJogja) – Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta bersama Pusat Studi Gender (PSG) LPPM UNU Yogyakarta dan PW Fatayat NU DIY menggelar acara Ngaji Keadilan Gender Islam(KGI) seri 1, Senin (09/9) di aula setempat.

Ketua LPPM UNU yang membawahi PSG UNU, Gus Mustafid saat membuka acara ini berharap keberadaan PSG UNU mampu memberi kontribusi tentang Gender dalam perspektif Islam dan konteks sosial-kemasyarakatan. Hal ini sesuai salah satu tagline UNU; Bridging yang berarti menjembatani. “Saya berharap PSG UNU dapat menjembatani problem-problem yang terkait masalah perempuan dan menjawab semua teori-teori perspektif sosial yang ada dengan tujuan menegaskan social justice”.

Acara menghadirkan pemateri Dr Nur Rofiah Bil Uzm, dosen pasca sarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta. Dalam pemaparannya, Nur Rofiah mengatakan ada 2 jenis perbedaan antara lelaki dan perempuan, yaitu perbedaan dalam pengalaman biologis dan pengalaman sosial. Pengalaman sosial inilah yang menjadi dasar lahirnya isu keadilan di level gender.

Terjadinya bias gender, menurutnya, tidak terlepas dari para mufassir yang cenderung menguntungkan kaum laki-laki, karena ini efek sosio-budaya sistem patriarki yang sudah lama tertanam dalam kehidupan manusia. Sistem patriarki menimbulkan 6 pokok masalah, yaitu stigmatisasi, marjinalisasi, subordinasi, kekerasan dan beban ganda bagi perempuan.

Untuk mengetahui level kesadaran kemanusiaan bagi perempuan, perempuan yang akrab dipanggil Nur ini melontarkan sebuah cerita untuk ditanggapi. Peserta diminta menuliskan satu kata dalam 3 menit setelah mendengar cerita tersebut.

Ia pun mulai bercerita, “Ada seorang pengusaha yang datang dari Jakarta ke Yogyakarta untuk urusan bisnis. Malamnya pengusaha tersebut menginap di hotel bersama istri temannya”. Dan hasilnya kebanyakan peserta menulis; “Selingkuh, Naudzubillah, Asthagfirullah, zina, dll” yang semuanya itu menandakan di alam bawah sadarnya mereka berbicara bahwa yang menjadi pengusaha tersebut adalah lelaki. Padahal bisa jadi pengusaha tersebut seorang wanita.

Dari pembacaan cerita tersebut membuktikan bahwa di zaman modern seperti saat ini, kesadaran kemanusiaan bagi perempuan masih berada dalam level menengah. Pada level menengah ini menyatakan bahwa perempuan juga manusia, namun standar kemanusiaannya adalah laki-laki. Bahwa laki-laki lebih diunggulkan dan dibanggakan ketimbang perempuan. Kemaslahahan laki-laki menjadi standar kemaslahahan bagi perempuan. Sedang kemaslahahan dalam Islam harus mencakup bagi keduanya.

Diingatkan, Islam menginginkan kesadaran kemanusiaan bagi perempuan berada dalam level tertinggi, yang artinya laki-laki dan perempuan adalah sama-sama manusia dan menjadi subyek penuh dalam kehidupan. Standar kemanusiaan mereka sama sambil memberikan perhatian khusus pada pengalaman biologis maupun sosial perempuan.

“Adanya pemahaman yang baik tentang gender dalam masyarakat modern saat ini, diharap mampu untuk membedakan secara porposional dalam memperlakukan perempuan dan laki-laki. Perlakuan yang sama pada pengalaman yang sama, dan perlakuan yang berbeda pada pengalaman yang berbeda tanpa berniat mendiskriminasikan, melainkan untuk memberikan perhatian khusus pada pengalaman perempuan” tegas Nur Rofiah.

Acara yang berlangsung pukul 08.00 – 13.00 itu diikuti sekitar 90 orang peserta yang aktif dan antusias mendengarkan pemaparan hingga sesi tanya jawab. (Nurhaeni)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed