by

Kapolda DIY Ingatkan Filosofi Sawo

NUJogja- Kapolda DIY Brigjen Pol Ahmad Dhofiri mengingatkan para santri untuk merapatkan barisan dalam rangka meneruskan perjuangan atau jihad para pendahulu. Di era masa kini perjuangan para santri masih terus dibutuhkan dalam rangka mengisi kemerdekaan serta memajukan bangsa dan negara.

“Para santri sekarang tetap harus jihad secara kontemporer. Bagi para santri, jihad merupakan perwujudan cinta tanah air,” kata Brigjen Pol Ahmaf Dhofiri.

Hal itu disampaikan dalam acara Pembinaan Santri tentang Wawasan Kebangsaan bertema “Aktualisasi Semangat Resolusi Jihad di Era Reformasi’ yang diselenggarakan PWNU DIY di Ponpes Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Sabtu (21/10/2017). Dialog juga menghadirkan narasumber Kasi Teritorial Korem 072/Pamungkas Kol Indro Respati dan Kakanwil Kemenag DIY Drs H Muhammad Lutfi Hamid MAg.

Terkait perintah merapatkan barisan, Kapolda mengingatkan filosofi sawo. Diungkapkan, saat berjuang mengusir penjajah, Pangeran Diponegoro memerintahkan untuk ditanam pohon sawo di pesantren-pesantren yang menjadi basis perjuangaannya. Fungsinya, antara lain pohon sawo tersebut menjadi sandi atau kode bahwa di pesantren itu menjadi pendukung perjuangannya.

“Selain itu, pohon sawo juga mempunyai makna filosofis. Karena nama sawo menyiratkan perintah agar merapatkan barisan. Nama sawo di sini diambil dari perintah ‘sawwu shufufakum, wa inna taswiyatash shufufi min tamami harakah” yang artinya rapatkanlah barisan, karena rapatnya barisan untuk kesempurnaan perjuangan atau gerakan,” paparnya.

Kasi Teritorial Korem 072/Pamungkas Kol Indro Respati juga mengingatkan, saat ini ada pihak-pihak yang berupaya memecah belah dan melemahkan bangsa. Caranya melalui banyak hal, misalnya dengan memasukkan paham-paham radikal, pergaulan bebas, atau menjerumuskan generasi muda pada penyalahgunaan narkoba.

“Di era digital ini, upaya tersebut juga dilakukan melalui media sosial, yaitu dengan menyebarkan informasi hoax atau menyesatkan. Karena itu para santri jangan sampai ikut menyebarkan hoax. Kalau dapat informasi jangan asal dishare begitu saja. Bisa-bisa kena hukuman berat sesuai UU ITE,” jelasnya.

Kakanwil Kemenag DIY juga mengingatkan agar para santri jangan mudah terprovokasi. Kalau mendapat informasi dari media sosial harus dikritisi dan jangan mudah terpengaruh begitu saja. “Sering ada informasi lama disebar ulang, sehingga kalau dipercaya bisa menyesatkan” kata HM Lutfi Hamid. (Fie)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed